23 December 2012

AH-64 Apache

Pengalaman pahit tentara Amerika di medan perang Vietnam, setidaknya membawa hikmah bagi para perancang pesawat militer negeri itu, khususnya mengenai helikopter serang. Bell UH-1 Iroquois dan OH-6A Cayuse memang dapat dipersenjatai, namun dasarnya kedua heli itu adalah heli transport, bukan helikopter tempur. Maka setelah melalui serangkaian studi ekstensif, tahun 1976 AD AS memilih AH-64 Apache buatan Hughes Helicopters (diakuisisi McDonnell Douglas) sebagai pemenang program AAH (Army Attack helicopters). Apache berhasil menyingkirkan saingan beratnya Bell YAH-63.


Apache (nama suku Indian) adalah heli serang yang mampu membawa banyak persenjataan canggih sebagaimana layaknya pesawat tempur. Pada sayapnya dapat menenteng 16 peluru kendali anti-tank Hellfire atau 4 tabung roket isi 19 (bisa juga kombinasi dari keduanya). Selain itu pada kedua ujung sayapnya (dipasangi pilon) dapat membawa rudal pencari panas udara ke udara AIM-9 Sidewinder. Di bawah kokpitnya dipasangi turret chain gun kaliber 300 mm dengan 1.200 peluru dari berbagai jenis amunisi. Ia juga dilengkapi dengan fasilitas pesawat tempur F-16 yang berupa TADS/PNVS (Target Acquisition Designation Sight/Pilot Night Vision Sensor) butan Martin Marietta. Kecepatan heli bertampang sangar ini sekitar 296 km/jam, dan dapat terbang maksimum dengan bahan bakar tambahan (internal tank) mencapai 482 km.

 
Tanggal 30 September 1983, Apache roll-out di Mesa, Arizona. Tiga tahun kemudian (Juli 1986) baru diserahkan ke AD AS. Pertama kali diterjunkan dalam operasi militer (Desember 1989 - Januari 1990) dibawah sandi "Operation Just Cause" untuk menggulingkan diktator Noriega. Apache juga ikut ambil bagian dalam Perang Teluk. Debut pertama dalam perang besar ini ditandai dengan menyerang radar Irak pada tanggal 17 Januari 1992. Bahkan dalam perang terbesar setelah Perang Dunia II ini, Apache membuat rekor dengan menghancurkan 81 tank dan 23 kendaraan militer pasukan Saddam Hussein.


Selain dipakai oleh AD AS, Apache juga digunakan oleh Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yunani, dan Israel (dengan nama lokal Petan). Belanda, Inggris, Korea Selatan dan Kuwait pun berminat untuk memilikinya. Tak terkecuali Indonesia yang akan melakukan pembelian sejumlah 6 unit dalam waktu dekat ini.

Sumber : Membuat Pesawat Model dari Kertas terbitan 1999