21 June 2019

Babad Desa Berjuluk "Kota Sawo", Joresan

Menurut dongeng dari para sesepuh desa Joresan, tersebutlah seorang santri yang berasal dari Sumedang, Jawa Barat yang bernama Mohamad Thoyyib. Ia berguru agama kepada Kyai Ageng Mohamad Besari, Tegalsari Ponorogo sekitar tahun 1750-an Masehi. Pada suatu ketika Moh Thoyyib berjalan ke arah timur dari pondok Tegalsari. Dalam perjalanannya ia melewati hutan belantara yang ditumbuhi pepohonan rimbun. Lalu satu persatu pohon tersebut ditebang agar bisa didiami. Setelah daerah itu dibuka, Moh Thoyyib memberi nama “DJOPER”, yang sekarang dikenal sebagai desa Coper, kecamatan Jetis.

Makam Kyai Moh Thoyyib Joresan



Karena kegigihan Moh Thoyyib untuk membuka daerah baru tersebut, maka mertuanya, Kyai Ishak, putra Kyai Ageng Besari Tegalsari mengikutinya untuk tinggal di Djoper. Lain waktu, Moh Thoyyib memanjat sebuah pohon yang tinggi untuk melihat wilayah sekitar. Akhirnya ia pun minta restu mertuanya untuk membuka daerah baru di sebelah utara Djoper. Ia berjalan ke arah pepohonan yang rindang dan sampailah di sebuah saluran air yang bernama Gender. Disitu Moh Thoyyib bertemu dengan seseorang dan bertanya, “Nyapo kowe neng kene kang ?”. “Aku njogo resan iki”, jawab orang tersebut. Lalu Moh Thoyyib bertanya lagi, “Omahmu ngendi ?”. Orang itu menjawab “Sudimoro”. Dari percakapan itu akhirnya Moh Thoyyib berinisiatif untuk menamakan daerah baru itu JORESAN, diambilkan dari kata NJOGO RESAN (menjaga saluran air).

Lambat laun desa Joresan semakin ramai dengan aktifitas penduduknya. Moh Thoyyib pun mendirikan pondok pesantren dan sebagai pusat kegiatannya dibangunlah masjid untuk masyarakat umum. Pusat desa Joresan menurut para sesepuh saat ini berada di sebelah utara SDN Joresan. Karena kewalahan dalam mendidik santri, Kyai Moh Thoyyib meminta bantuan adik iparnya, Nur Muhammad untuk membantunya. Adapun makam Nur Muhammad berada di timur SDN Joresan. Disamping itu, ia juga meminta adik kandung perempuannya yang bernama Sopongatun. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat desa, sekarang ini makam Sopongatun terletak di kompleks asrama putra Pondok Pesantren “AL-ISLAM”. Sedangkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Moh Thoyyib meminta bantuan temannya dari Sumedang yang bernama Dul Rajak. Makam Dul Rajak berada di sebelah barat desa, tepatnya sebelah selatan pinggir sungai perbatasan antara desa Joresan dan Nglumpang. Berkat koordinasi yang berkesinambungan antara Kyai Moh Thoyyib, Nur Muhammad, Sopongatun, dan Dul Rajak, maka desa Joresan menjadi aman, tentram, dan damai. Moh Thoyyib dimakamkan di sebelah barat masjid desa Joresan. Untuk menghormati beliau, masjid desa ini diberi nama masjid “AT-TOYYIB”.

Peninggalan Kyai Moh Thoyyib yang saat ini dapat kita temui adalah berdirinya pohon sawo di sekitar rumah penduduk desa. Lokasi pohon sawo mayoritas berada di sepanjang makam Nur Muhammad (adik ipar) hingga Dul Rajak (teman seperjuangan). Berkah buah sawo itulah kelak di kemudian hari, salah satu keturunan kelima Kyai Moh Thoyyib yang bernama Kyai Maghfur Hasbulloh merintis berdirinya lembaga pendidikan formal setingkat MTs/SLTP. Lembaga ini dikenal dengan nama “AL-ISLAM”. Kyai Maghfur Hasbulloh dimakamkan satu kompleks dengan Kyai Moh Thoyyib. Saat ini banyak peziarah, terutama warga Ponorogo menjadikan kompleks makam Joresan sebagai destinasi wisata religi, terutama saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

2 comments:

  1. Terimakasih atas penulisan artikelnya yang sangat original. Saya tak menyangka bahwa leluhur saya berdarah sunda. Pantasan banyak orang mengira saya orang sana 😁

    ReplyDelete
  2. Setahu saya mbah toyib asli otang ponorogo

    ReplyDelete